Tampilkan postingan dengan label Friendship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Friendship. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

From my hope, to my friend

         Dusk was coming ... but, Ayumi Mihara author's famous novel has not looked too. In fact, she promised me to come to a place that promised last night, when I called him.  
         My name is Ardisha  lufhina, usually called Disha. I am a big fan of Ayumi, a famous novelist who has been publishing a lot of novels. Last night, I called Ayumi into his mobile phone number. Fortunately, when I called he was not busy. I always wanted to meet directly with her, immediately asked to meet at a popular cafe in a mall. Incidentally, this day I follow the lessons in a tutoring institute at the mall.  
           Before I went to tutoring, I've told my mom about my return that may be somewhat. When tutoring, I could not concentrate on lessons taught by the teacher. I'm too busy thinking about beautiful moments when meeting Ayumi. However, I do not think she did not keep her promise. 
            It was already at 17.00 but my wait has nothing. In fact, last night I asked him to meet at the Lily Cafe, at 16.30. However, passing at 17.00 ever - awaited yet to come. I'm disappointed. Finally I called my mom to pick me up. At home, I immediately entered the room and locked my self in a room. I sobbed. Ayumi Why not come? I've sacrificed my favorite television show to wait for her. Finally, after dinner, i telephone Ayumi. But she could not lift my calls also. Perhaps being busy. I can not wait until he pick up the phone. Immediately, I hang up and then I slept.
         
The next day, at school I heard the faint of Ayumi. In a newspaper that is read friend of mine, Lisa broke the news that morning, just yesterday afternoon that Ayumi suffered a severe traffic accident. After further clearly told about this, then I know, why Ayumi not come yesterday afternoon to see me. I heard this news, as fans of weight, feeling sad and guilty. Why yesterday I could hate him just because he did not come to see me that only a fan. After asking permission to mom, after school, me and my friends who is also a big fan of Ayumi went straight to the fruit shop to buy Ayumi's favorite fruits. After that, we went straight to the hospital where Ayumi treated there.
             
Arriving at the hospital, was already much too Ayumi fans who come and meet the corridor toward the room where Ayumi treated. We are the new arrivals do not know where to go waiting room to meet Ayumi. But suddenly someone admonish us. Turns out she is the mother of Ayumi, Mrs.Rose name. Mrs.Rose know that we will see Ayumi. But we can not enter the treatment room of Ayumi. Finally Mrs.Rose also tells about what happened yesterday. So, yesterday afternoon, Ayumi asked permission to meet a fan who called her weight overnight. However, on his way to a place that promised fans that weight, the driver who drove the car a headache and did not see a big truck in front of him. Finally there was the accident. Fortunately, Ayumi still be saved. After the talk, Mrs.Rose even sobbing, he could not hold back feelings that torment him as telling us. She also will ask for forgiveness from a big fan of Ayumi Hamasaki has been called to meet them. I also asked Mrs.Rose, a big fan of Ayumi's name. And it turns out I was right, the mother had been talking about is me! I also apologize to Mrs.Rose have made Ayumi be like this now. However Mrs.Rose reject my apology. He immediately told me to get into the treatment room Ayumi.
  
I was left alone in the treatment room. Apparently, Ayumi accident severe enough. His head was wrapped in thick bandages, and his hands encased in plaster for broken bones. I feel sorry for him. When Ayumi came to, I immediately tell who I am, and my relationship with his accident. Ayumi immediately apologized to me for not keeping his promise. I also apologized for causing him have an accident like this. We were together promises to be a friend.Three months later, Ayumi has been discharged from the hospital. Mama is also proud of me who had dared to apologize when I'm guilty. According to Mom, sorry I was so mean to cure Ayumi. Ayumi had become my best friend.
  
One day, Ayumi visit to my house. Seeing the many papers in my home, I invite Ayumi create novel together. Will my dream come true to become a famous novelist with Ayumi, my idol? My hope of course.

Senin, 14 November 2011

Buah Impianku


Senja pun datang…namun, batang hidung Ayumi Mihara si penulis novel terkenal itu belum tampak juga.Padahal, ia berjanji padaku akan datang ke tempat yang dijanjikannya semalam, saat aku meneleponnya.Namaku Ardisha lufhina, biasa dipanggil Disha.Aku adalah penggemar berat Ayumi, seorang penulis novel terkenal yang sudah mengeluarkan banyak novel.Semalam, aku menelepon Ayumi ke nomor handphone nya, Untunglah pada saat aku menelepon ia sedang tidak sibuk.Aku yang selalu ingin bertemu langsung dengannya, langsung meminta bertemu di suatu cafe terkenal dalam sebuah mall.Kebetulan, pada hari ini juga aku mengikuti les di sebuah lembaga bimbingan belajar di mall tersebut.Sebelum aku pergi les, aku sudah memberitahu mama mengenai kepulanganku yang mungkin agak lama.Saat les, aku tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran yang diajarkan sang pelatih.Aku terlalu sibuk memikirkan momen – momen indah saat bertemu Ayumi.Namun, tak ku sangka ia tidak menepati janjinya.Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 tetapi penantianku sia – sia.Padahal, semalam aku memintanya bertemu di Lily cafe, pukul 16.30.Namun, melewati pukul 17.00 pun yang ditunggu – tunggu belum juga datang.Aku kecewa.Akhirnya kutelepon mamaku untuk menjemputku.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar dan mengunci diri dalam kamar.Aku menangis tersedu – sedu.Kenapa Ayumi tak datang?Aku sudah mengorbankan acara televisi kesukaanku untuk menunggu dirinya.Akhirnya, setelah makan malam, ku telepon Ayumi.Namun ia tak mengangkat juga telepon dariku.Mungkin sedang sibuk.Aku tak menunggu hingga ia angkat teleponnya.Langsung saja ku tutup teleponnya kemudian aku pun tidur.
Keesokan harinya, di sekolah sayup – sayup kudengar berita tentang Ayumi.Didalam sebuah Koran yang dibaca temanku, Lisa pagi itu tersiar sebuah berita bahwa, b aru kemarin sore Ayumi mengalami kecelakaan lalu lintas yang parah.Setelah diceritakan lebih jelas mengenai hal ini, barulah aku tahu, mengapa kemarin sore Ayumi tak datang menemuiku.Aku yang mendengar berita ini, sebagai penggemar beratnya, merasa sedih dan bersalah.Mengapa kemarin aku bisa benci kepadanya hanya karena ia tak datang menemui ku yang hanya seorang penggemarnya.Setelah meminta izin kepada mama, sepulang sekolah,aku dan teman – temanku yang juga penggemar berat Ayumi langsung pergi ke toko buah untuk membeli buah – buahan kesukaan Ayumi.Setelah itu,kami pun langsung pergi ke rumah sakit tempat Ayumi dirawat disana.



Sesampainya di rumah sakit tersebut, ternyata sudah banyak juga penggemar Ayumi yang datang dan memenuhi lorong menuju kamar dimana Ayumi dirawat.Kami yang baru datang tak tahu dimana harus menunggu giliran masuk kamar untuk menemui Ayumi.Namun tiba – tiba seseorang menegur kami.Ternyata dia adalah ibu Ayumi,ibu Rose namanya.Ibu Rose tahu bahwa kami akan menjenguk Ayumi.Namun kami tidak bisa masuk kamar perawatan Ayumi.Akhirnya Ibu Rose pun bercerita tentang kejadian kemarin.Jadi, Sore kemarin, Ayumi meminta izin untuk menemui seorang penggemar beratnya yang meneleponnya semalam.Namun, dalam perjalanannya menuju tempat yang dijanjikan penggemar beratnya itu, sopir yang mengendarai mobil tersebut sedang sakit kepala dan tidak melihat adanya truk besar di depannya.Akhirnya terjadilah kecelakaan itu.Untunglah Ayumi masih bisa diselamatkan.Setelah bercerita,Ibu Rose pun menangis tersedu –sedu, Ia tak bisa menahan lagi perasaan yang menyiksa dirinya saat bercerita pada kami.Ia pun akan meminta maaf pada penggemar berat Ayumi yang sudah meneleponnya untuk bertemu Ayumi tersebut.Aku pun bertanya pada Ibu Rose, nama penggemar berat Ayumi itu.Dan ternyata dugaanku benar, yang ibu bicarakan sedari tadi adalah aku!Aku pun meminta maaf pada Ibu Rose telah membuat Ayumi menjadi seperti sekarang ini.Namun Ibu Rose menolak permintaan maafku.Ia langsung menyuruhku masuk ke dalam ruang perawatan Ayumi.
Aku pun dibiarkan sendiri dalam kamar perawatannya.Ternyata, kecelakaan yang dialami Ayumi cukup parah.Kepalanya dibalut perban yang tebal, dan tangannya terbungkus gips untuk patah tulang.Aku merasa kasihan padanya.Saat Ayumi siuman, aku langsung ceritakan siapa aku, dan hubunganku dengan kecelakaan yang dialaminya.Ayumi langsung meminta maaf padaku karena tidak menepati janjinya.Aku pun meminta maaf juga karena menyebabkan dirinya mengalami kecelakaan seperti ini.Kami pun sama – sama berjanji akan menjadi sahabat.
Tiga bulan kemudian, Ayumi telah keluar dari rumah sakit.Mama juga bangga padaku yang telah berani meminta maaf saat aku bersalah.Menurut mama, penyesalanku begitu berarti pada kesembuhan Ayumi.Ayumi pun menjadi sahabatku.
Suatu hari,Ayumi berkunjung ke rumahku.Melihat banyaknya karya tulis yang ada di rumahku, Ayumi mengajak aku membuat novel bersama – sama.Akankah terwujud impianku untuk menjadi seorang penulis novel terkenal bersama Ayumi, idolaku?Ku berharap tentu.



Sabtu, 27 Agustus 2011

Sebuah Pengakuan

Siang itu Cherry mengajak Chloe pulang bersama untuk yang perrtama kalinya sejak kejadian malam puncak perpisahan.  Chloe menanggapinya dengan sangat bahagia dan antusias.  Namun ia tak tau maksud dan tujuan Cherry mengajaknya pulang bersama. 
---
Malam itu tanggal 12 Mei 2011 di sebuah ballroom mewah dan besar dari sebuah hotel.  Anak-anak bersorak ria menyambut datangnya  waktu perpisahan kepada mereka.  Acara yang berlangsung meriah itu dimanfaatkan peserta untuk mengenang masa lalu mereka di SMP.  Tak luput dari peristiwa itu Cherry dan Chloe. 
Mereka duduk di kursi bagian tengah.  Tampak Cherry tengah asyik menarikan jari-jarinya di atas tuts handphonenya.  Chloe sedang bosan menunggu acara dimulai.  Tiba-tiba ketika acara dimulai Cherry menerima telepon.  Tepat ketika telepon ditutup, Cherry merapikan dandanannya dan merapikan pakaiannya. 
“Cher, kamu mau kemana?” Chloe menahan gaun Cherry yang tengah beranjak dari kursinya. 
“Mau ke belakang sebentar.  “ Cherry menjawab dengan dingin.  Ia juga tak menatap balik Chloe. 
Cherry segera menarik gaunnya dan meninggalkan Chloe tanpa banyak omong.  Ia berjalan tergesa-gesa ke arah toilet.  Sepanjang jalan menuju toilet, kepalanya terlihat waspada menengok kanan kiri.  Chloe curiga.  Tak biasa sahabatnya itu mengacuhkan dirinya. 
‘Pasti ada sesuatu yang disembunyikan.  ‘ Pikir Chloe. 
Chloe yang penasaran terus menuju ke toilet.  Ia mengendap-endap sekedar tidak diketahui keberadaannya oleh Cherry.  Namun keinginannya untuk masuk toilet terpendam karena sesuatu.   
“Cher, plis donk.  Kamu gak bisa terus ninggalin aku gitu aja.  Kamu harus tanggung jawab.  Masa SMP kita berakhir, gak berarti utang kamu juga berakhir !”
“Ya tapi, Flo.  Aku lagi gak bisa sekarang.  Kamu kan tau, bokap aku bela-belain cari uang buat acara perpisahan ini.  Mungkin untuk uang masuk SMA aja gak ada.  Kamu harus ngerti aku donk.  “
“No,  no,  no! Kamu udah bikin aku tiap hari dimarahin nyokap aku ! Aku gak mau tau caranya, kamu harus kembaliin laptop aku seperti sediakala.  Titik!”
Terdengar suara langkah kaki mendekati posisi Chloe berdiri.  Chloe segera bersembunyi di balik pintu keluar yang terletak bersebelahan dengan toilet.  Suara langkah kaki itu sudah menjauh.  Kemudian terdengar isak tangis dari toilet.  Isak tangis itu menyayat hati.  Chloe tau siapa itu.  Itu Cherry.  Chloe tak berani menghampiri Cherry yang sedang duduk menangis.  Ia hanya mengintip dan kembali ke kursinya di ballroom. 
Tak lama, Cherry kembali ke kursinya.  Wajahnya telah dipoles.  Namun samar-samar, matanya masih terlihat sembab.  Sepanjang kejadian itu hingga kini, saat pengumuman kelulusan diumumkan, Cherry tak pernah angkat bicara.  Semua sms Chloe dan perhatian dari Chloe di buang begitu saja. 
---
Chloe menyambut baik ajakan pulang ini.  Hari ini setelah pengumuman kelulusan , rencananya mereka akan pergi ke rumah Chloe untuk curhat.  Program ini memang sudah dari sekian tahun dijalankan oleh sepasang sahabat ini agar ikatan persahabatan mereka semakin dekat. Chloe mengenang persahabatan mereka sedari SD kelas 5.  Saat itu Chloe adalah anak pindahan dari Jakarta menemani Cherry yang tidak punya teman.  Mereka selalu bersama. 
Sebelumnya Chloe dan Cherry sudah berjanji untuk bertemu di pos satpam sekolah.  Chloe pun berangkat meninggalkan kelas menuju pos satpam.  Sesampainya di gerbang SMP Pusaka, Chloe dengan sabar menunggu di pos satpam.  Chloe hampir tertidur menunggu Cherry yang lebih lama . 
“Chloe! Kau sudah disini! Ayo kita pulang.  “
“Ah? Eh, Cherry! Ayo, aduh maaf aku sangat mengantuk.  Hehe.  “
“Tak apa.  “
Cherry menarik tangan Chloe dari pos satpam dan berjalan beriringan di jalan menuju rumah mereka yang tidak terlalu jauh.  Namun mulut mereka bungkam sepanjang jalan.  Masing-masing tidak ada yang ingin mencairkan suasana, rupanya.  Sesampainya di sebuah pohon tua di sebuah taman, Cherry menghentikan langkahnya,
“Kenapa Cher? There’s a problem?”
“Chloe, kesini dulu yuk.  “
Cherry menarik tangan Chloe kea rah pohon tua itu.  Seperti hari-hari yang dihiasi persahabatan mereka, Cherry dengan antusias memanjat pohon itu hingga ke ujungnya.  Tapi Chloe tak mau naik.  Ia malah memperhatikan Cherry dari bawah dengan tatapan malas. 
“Chloe, ayo naik!” Pinta Cherry
Chloe malah membuang mukanya.  Cherry segera turun menghampiri Chloe ddengan wajah memelas.  Ia duduk di kursi yang terletak di bawah pohon.  Chloe ikut duduk di kursi tersebut bersama Cherry. 
“Chloe, ya.. .aku tau memang jarang aku jenguk kamu.  Tapi jangan gini donk.  “
“Bukan masalah itu, Cher!”
“Trus? Masalah apa?”
“Kamu sadari aja sendiri!” Chloe membuang mukanya kea rah batu di sebelah kirinya. 
“Chloe, kalo bener kamu pengen tau masalahku gapapa deh.  “ Cherry menunduk pasrah. 
“Ceritakan.  “  Pinta Chloe datar. 
                Cherry menarik napas panjang, manguatkan jantungnya untuk berhenti berdebar-debar.  Meyakinkan otaknya untuk menyetel memori lain tentang masalah laptop milik Flo.  Dan meluncurkannya lewat mulut. 
“Chloe, jadi ceritanya begini…”
---
                Siang itu sepulang sekolah ketika Chloe sedang sakit.  Cherry terpaksa menuntun kakinya untuk pulang ke rumah sendirian.  Terik matahari menumbuhkan niatnya untuk berjalan lebih cepat.  Namun ditengah jalan pulang, ia menyadari sesuatu.  Tugas Biologi yang harus dikumpulkan besok belum ia kerjakan.  Untuk kembali ke SMP Permata tempat ia dan Chloe bersekolah pasti tidak akan cukup waktu.  Di rumahnya yang sempit tidak ada computer, bahkan laptop.  Ia pun mampir dulu ke rumah Flo, anak dari bos perusahaan besar yang sombong. 
“Flo, aku mohon.  Aku belum mengerjakannya.  “
“Baiklah, kebetulan tugas Biologi sudah aku kumpulkan.  “
“Ah, terima kasih,  Flo.  Hmm tapi ini sudah sore.  Sudah saatnya aku pulang ke rumah.  Boleh ku bawa laptopmu?”
“Bawa pulang? Ah, tidak! Nanti kalau rusak gimana? Aku yang bakal kena marah.  “ Flo bicara dengan pelitnya. 
“Aku mohon, aku tidak boleh pulang terlalu sore.  Aku bisa dikunci dil luar rumah.  Flo, aku mohon. .  .  “ Cherry tampak sangat memelas.  Ia hampir menangis.  Flo tampak tidak senang. 
“Hmm, ya baiklah.  Tapi besok, harus dikembalikan ya! Jangan lupa, di kelasku.  “
“Oh, terima kasih banyak Flo.  Aku janji tidak akan merusakkannya.  “
Sesampainya di rumah, Cherry segera mengerjakan tugas biologi dan menyimpannya di falshdisk milik Flo juga.  Saat itu tugasnya sudah selesai.  Laptop Flo juga sudah dimatikan.  Namun Cherry lupa sesuatu.  Saat meninggalkan laptopnya di kamar, ia lupa memasukkan laptop tersebut ke dalam tas sekolahnya.  Tak disangka, adiknya yang berumur 3 tahun mendorong laptop itu dari kasur ke lantai.  Laptopnya tidak pecah, hanya retak.  Namun sistemnya rusak. 
---
Cherry membanjiri pipinya dengan air mata.  Chloe pun memeluknya.  Menghadiahkan perhatian yang cukup untuk membangkitkan selera menangis Cherry. 
“Kenapa sih, kamu gak minta bantuan aku aja? Aku masih bisa tolong kamu, Cher.  “
“Aku gak mau nyusahin kamu lagi, Chloe.  Kamu udah banyak banget nolongin aku.  “
“Apa? Apa gunanya sahabat kalo kamu gak minta bantuan aku?”
“Maafin aku Chloe.  Maafin aku.  Aku gak tau harus gimana lagi.  Tiap hari aku nangis mikirin masalah ini, kamu.  “
Chloe tersenyum.  Dia sudah menyimpan ide untuk membantu Cherry mengganti laptop Flo.  Persiapan berlangsung lancar.  Garasi, sudah siap.  Baju-baju telah dipajang.  Tulisan-tulisan, sudah dipajang.  Tinggal menunggu pembeli saja.  Chloe tersenyum simpul.  Dia tidak bisa membayangkan apa reaksi Cherry saat menerima hasil ini. 
Keesokan harinya di rumah Cherry, Chloe tengah menunggu dibukakan pintu oleh Cherry.  Saat itu Cherry sedang mengerjakan PRnya di kamar. 
“Hai Chloe, ada apa kemari?”
“Ah, aku ingin main saja.  Aku bosan di rumah.  Bisa tolong ambilkan minum? Aku sangat haus terbang kesini.  “ Chloe menyuruh layaknya seorang nyonya di rumah itu. 
“Aiish, baiklaah.  “ Cherry dengan malas mengambilkan minum untuk Chloe di dapur. 
Sementara Cherry di dapur, Chloe meletakkan laptop yang baru dibeli dan dibungkus kertas kado di atas meja belajar Cherry.  Setelah itu ia pulang tanpa pamit. 
“Chloe, ini air…” .   “Chloe dimana? Ah pasti dia pulang.  Dasar Chloe.  “
Cherry menggerutu dan meletakkan gelas itu di pojok meja belajarnya.  Namun di sebelah gelas tersebut ada benda yang asing.  Ia meraihnya.  Membuka bungkusnya dan melihat isinya.  Ia sangat terkejut.  Disitu tertulis sebuah surat. 
‘Jangan heran, kalau sahabat selalu membantu sahabatnya. 
Dari sahabatmu ^^’
“Chloe!!! Kau…”
Cherry tidak dapat melanjutkan kata-katanya.  Ia sudah terlanjur terharu dengan hadiah yang diterimanya.  Sebuah laptop yang sesuai keinginan Flo dari Chloe. 

---Tamat---